"Mencari Kepastian Melalui Kebenaran Logika"

Senin, 28 Juli 2014

09.30 | by Unknown | | No comments
Lusius Sinurat: Jangan Dobrak Ketulianku!: ......kupersembahkan kepada semua orang yang hari ini merayakan Idul Fitri: Selamat Idul Fitri ! Mohon MAAF-LAHIR-dan-BATIN Habis ny...

Minggu, 27 Juli 2014

12.09 | by Unknown | Categories: | No comments

Kamis, 24 Oktober 2013

07.42 | by Unknown | Categories: , , | 2 comments
Dia tak pernah tahu apa yang kurasakan
ketika kejadian itu terjadi.
Banyak yang dia tahu tentang aku,
tapi tak sebaliknya.

Tingkah lakunya
sama sekali tak merubah pandanganku terhadap kaumnya.
persembunyian itu tak kan ku lacak,
tak kan ku hampiri,
bahkan tak kan ku pedulikan.

Tapi bahwa aku tahu yang tersembunyi,
itu masih aku tahu.
tak punya daya dan upaya
untuk mengendalikan semua itu.

Ini memang resiko,
yang sudah kuperhitungkan untung dan ruginya.

Semoga dia nyaman
dan bahagia dengan tingkahnya,
aku tak kan mengganggunya,
mungkin dia bahagia dengan itu.

Ku 'kan ikut bahagia,
namun rahasianya sudah ada yang ku ketahui
meskipun tak banyak.

kejujuran diatas harga sembako,
tak bisa kumaafkan begitu saja.

Kamis, 29 Agustus 2013

Traffic Lights atau yang sering disebut "bang jo" (lampu abang ijo) oleh warga dikawasan Semarang dan sekitarnya merupakan tempat pemberhentian sementara saat si merah menyala. Ketika itulah otak dituntut untuk cepat dan tepat menentukan langkah kemana selanjutnya. Jika rute sudah dimantabkan sebelum perjalanan dimulai, kemungkinan akan lebih mudah mengambil langkah. Tapi jika sebaliknya, maka kegalauan akan meraja. Kecuali menikmati setiap jengkal pengalaman di perjalanan.

Cepat atau lambat, itu relatif. Tapi bagaimana memaksimalkan waktu adalah usaha yang patut mendapat apresiasi. Jadi, siapkanlah peta perjalanan sebelum beraktifitas agar waktu yang ada jadi istimewa.

Selasa, 02 Juli 2013

Sering kali mendengar perbincangan disekitar yang kurang lebih sama dan menurut sebagian orang hal ini pertanyaan yang bisa bikin nggak nyaman. Istilah anak sekarang, galau.

Saat lulus sekolah; “Katanya sudah wisuda, kok masih nganggur?”. Beberapa waktu setelah itu,

“Kapan nikah?” Waktu nikah, dan pasangannya tidak sepadan (derajat, pangkat, dan kedudukan menurut orang kebanyakan) akan timbul lagi pertanyaan; “Kok pasangannya nggak imbang sih?”, dan lain sebagainya. Ini real, dan sering kali menjadi buah bibir. Meski privasi namun sulit untuk menghindari situasi ini.

Warna apa yang ditampilkan pada obyek yang dibuat menggambarkan rasa dan karsa sang empunya karya. Lewat media apapun yang tersedia, manusia bisa membentuk citra semau apa yang dia suka. Meskipun pencitraan tak serta merta membuatnya sanggup memikul beban atas konsekuensi yang mengikutinya. Sehingga, transformasi refleksi menjadi topik hangat ketika pencitraan tak seimbang dengan kenyataan. Persis seperti proses adiabatic namun dalam kehidupan social, tak bisa melupakan penilaian atas pencitraan yang telah dibangun. Meski demikian tak perlu menderita “Astigmatisma” kalau hanya untuk membedakan sesuatu yang dianggap sama oleh sebagian orang. Dan saat emosi tak terdefinisi dengan pasti, saat itu pula senyum dan tawa mampu memecahkan segala lara serta pembawa semangat yang kian membara. Asal jangan ketawa sepanjang masa. Bisa-bisa dibilang gila.
Formula tanpa pembuktian hanya akan membuat hafalan belum tentu benar-benar dipahami. Apalagi hanya berdasarkan "katanya",, yang belum tentu bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya dengan pasti. Seperti halnya segitiga yang sudah disepakati bahwa besarnya adalah 180 derajat. Pembuktian sederhana dengan menyatukan potongan ketiga sudut hingga membentuk garis lurus merupakan pembuktian sederhana namun nyata dan itu akan dengan mudah dipahami dan diingat siswa.

Andai dalam penyelesaian masalah ada pembuktian, minimal yang paling sederhana maka pertanggungjawaban atas jawaban tak kan diragukan juga akan mudah dimengerti dengan logika.

Mari selesaikan masalah dengan pembuktian nyata, hingga tak ada lagi referensi "katanya".
Mengelilingi lingkaran kehidupan yang semua titik jaraknya sama terhadap titik pusat. Namun terkadang seperti naik dan turun. Itu dinamika yang menarik, atau justru sebaliknya? Apapun itu, tak bisa di generalisasikan dan hanya diri kita sendiri yang tahu. Karena dari sudut mana kita melihat, akan menentukan nilai yang tertoreh nanti. Tak bisa terburu-buru menyimpulkan sesuatu hal terlebih atas kegagalan karena masih ada yang harus diperhitungkan untuk mencari jawaban atas kegagalan yang terjadi. Seperti halnya "usaha" yang mempertimbangkan delta serta terkadang kemiringan atas gaya.

Tingkah polah yang terlihat merupakan bukti dari nilai pribadi seseorang. Tiap saat bisa berubah pola, sesuai situasi dan kondisi. Seperti iklim yang tak tentu kapan panas, kapan dingin, kapan mendung, kapan hujan.

Ketika belum ditemukan rute tercepat menuju obyek indah lengkap dengan panorama serta suasana jiwa yang bahagia. Maka teruslah melaju, menikmati perjalanan yang sarat akan pembelajaran, menyantap bekal yang dibawa serta mengumpulkan bekal yang baru untuk dinikmati ketika sampai pada obyek menawan itu. Selalu bersyukur kepada Tuhan dengan apa yang ada akan lebih membuat bahagia. Meski tak selalu Dia penuhi apa kita pinta namun Dia selalu hadirkan apa yang kita butuhkan.

Yakin dengan sepenuh hati, semua akan indah pada waktunya, seperti lampu yang berpijar dimalam hari.

Rabu, 23 Januari 2013

09.55 | by Unknown | Categories: , | No comments
Teringat perjalanan sore itu yang harus terhenti sejenak akibat hempasan angin dan rintikan air dari langit yang mengguyur kawasan kota. Tak ada jalan lain kecuali berlindung pada emperan toko yang tak berpenghuni. Menunggu hujan reda, sambil buka ponsel untuk mengetahui info terkini. Itu aktivitas diawal persinggahan.

Sambil berdiskusi tentang perjalanan dan bertukar pikiran tentang makna hidup bersama seorang sahabat, prosesi perenunganpun dimulai. Kesempatan itu adalah saat melihat pancaran lampu yang memperjelas laju air hujan saat melewati pepohonan untuk membasahi bumi. Awalnya memang tidak begitu menarik, dan menurutku tak ada hubungannya juga dengan apa yang menjadi perbincangan waktu itu. Saat itu aku hanya berfikir, bagus. Iya, terlihat indah ya jika diperhatikan. terlalu simple pemikiran waktu itu. Dengan nada pelan tapi tegas, seorang sahabat berkata "lihat aliran air yang ada disana, cari maknanya, dan ikutilah hidup seperti aliran air yang dinamis itu".

Tak terlalu banyak perbincangan yang kuingat waktu itu, yang ku ingat hanya mencari makna peristiwa air melewati pohon yang akan membasahi planet yang berpenghuni manusia ini. Berjalan lurus, nggak perlu aneh-aneh, cukup mengikuti irama perjalanan dengan frekuensi dan gerakan yang konstan demi keseimbangan. Itu adalah pemikiranku seketika yang tak kuutarakan dengan lugas, dan dengan bahasa isyarat yang tak memberi ketegasan tentang jawaban yang pasti membuatku berfikir, berfikir, dan terus penasaran dengan makna dibalik itu.

Aku yang saat itu hanya fokus mencari jalan keluar untuk melanjutkan perjalananpun, bertindak seolah peristiwa itu tak penting dan semua perbincangan saa itu tak bermakna apapun kecuali obrolan biasa. Namun semua pelajaran malam itu masih tersimpan dan memberi isyarat untuk lebih memikirkan lagi makna dan langkah untuk hidup selanjutnya. Sampai detik ini pemikiranku masih tetap sama "berjalan lurus, nggak perlu aneh-aneh mengikuti irama perjalanan dengan frekuensi dan gerakan yang konstan demi keseimbangan".

Akhir perbindangan ditandai dengan redanya peristiwa air membasahi bumi. Kata penutup yang tak begitu panjang tapi sarat akan makna yaitu "Hati-hati dengan hati". Dan kata itu menjadi temuan formula untuk menjawab permaslahan yang telah diperbincangkan bersama.

Dikeheningan dini hari saat persiapan tidur pada peringatan lahirnya nabi SAW.

Minggu, 22 Juli 2012

10.21 | by Unknown | Categories: , , | 1 comment
Untuk mengubah paradigma seseorang tak semudah membalikkan telapak tangan seperti beras yang harus dimasak dulu menajdi nasi. Semua butuh proses dan tahapan yang harus dilalui. Tapi ketika paradigma yang sudah diyakini dan terbukti, apakah harus selalu dipatuhi??

Eksperimen yang dihadapi dan dilakukan dengan hati, pastilah tak hanya seperseribu atau setengah hati. maka eksperimen yang sudah diteliti dengan hati harus diyakini meskipun bukan suatu yang hakiki.

"phi" yang sering digunakan dalam berbagai formula matematika, tak selamanya 22/7 karena masih ada 3,14. Fungsinya sama, namun nominalnya tak kan persis sama.

Eksperimen akan mempengaruhi paradigma, namun paradigma yang sudah tertanam belum tentu mutlak sama dengan keadaan awal. Air dibekukan menjadi batu es, namun ketika mencair, keadaan air tak kan sejernih semula.

Keadaan awal, Formula yang digunakan, dan hasil akhir bisa disatukan seperti menu paket. Untuk tahu kebenaran yang tak selamanya mutlakpun, minimal ketiga unsur itu harus menjadi rukun wajib.

Tak ada pendapat akhir sebelum kembali padaNYA. 3,14 dan 22/7 relatif sama. Maka paradigma yang sudah tercipta atas dasar eksperimen, adalah formula jitu untuk menyelesaikan masalah, tentunya harus bisa memilih formula sesuai kebutuhan dilapangan.. :)

Rabu, 18 Juli 2012

18.55 | by Unknown | Categories: , | No comments
Sejak beberapa jam yang lalu, ku perhatikan keindahanmu. Dari yang hanya terlihat biasa, indah, sangat indah dan ternyata semakin indah dimata dan hatiku. Sampai malam yang gelap dan tak terlihat dengan jelaspun, kau masih begitu nyata hadir didepan mataku.sering kumelihatmu, namun baru beberapa menit yang lalu kau mengajarkan KEJUJURAN padaku. Begitu JUJURnya dikau, begitu apa adanya tampilanmu. Tak pernah kau berpura-pura hanya untuk menyenangkan orang-orang disekitarmu, begitu pula setiap pribadi yang melihatmu.

Dipagi hari kau tetap disana dengan tampilan dan posisi yang masih sama dengan kemarin, di siang hari kau menyejukkan dikala terik, begitu juga di sore hari. Dan dimalam hari kau semakin tak terlihat, namun keindahanmu masih tetap terjaga walaupun tak terlihat oleh mata.

Dari jarak yang sangat jauh keindahanmu masih samar-samar telihat, dari jarak yang lumayan jauh kau terlihat begitu indah namun saat berada sangat dekat denganmu kau tak terlalu indah dan tak lebih indah jika dibanding dengan keadaan dimana kau tampak dari kejauhan tapi itulah dirimu. Tak pernah peduli dengan anggapan dan persepsi orang terhadapmu saat melihatmu dari dekat atau jauh, kau begitu konsisten dan apa adanya. Tak adakepura-puraan apalagi rekayasa. Kau selalu setia pada tempat kau berada, dan selalu bekerja sebagaimana fungsimu yang sesungguhnya.


Kesejukanmu sungguh luar biasa, selalu menentramkan emosi jiwa.

Seperti tak banyak yang kau lakukan, hanya diam ditempat itu sebagai bukti ke”setia”anmu. Yah,, tak banyak yang kau lakukan karena hanya diam. Itu kalau yang menilai hanya melihat tanpa berfikir. Dengan kesetiaanmu, kau bagikan energi positif pada makhluk disekitarmu. Tanpamu orang bisa jadi kebanjiran karena tak ada bendungan yang mampu menyerap air seperti kau. Tanpamu tak ada udara bersih yang akan dihirup makhluk disekitarmu. Kau sunggguh luar biasa, dengan kejujuran dan kesetiaanmu kau berikan yang terbaik yang kamu miliki untuk makhkluk yang ada disekitarmu. Masih banyak jasamu bagi semesta yang tak bisa terungkap hanya dengan kata namun perkembangan pribadimupun selalu siap memberikan manfaat terhadap setiap makhlukNYA.

Pemandangan. Itulah kata yang sering orang ungkapkan saat melihatmu. Inspirasi yang sering muncul pada seseorang untuk bercerita. Baik dalam lukisan, tulisan, atau bahkan hanya sekedar kata. Tak banyak yang mereka sadari atas apa yang mereka unggah tentangmu. Kali ini kejujuran dan Kesetiaanmulah yang membuatku begitu kagum melihatmu, dan selalu ingin mengingatmu disetiap kesempatan. Dengan modal yang tak mudah (JUJUR dan SETIA), kau berikan semua kekuatanmu untuk semesta, termasuk diriku.

Matur tengkyu “hijau-hijauan” di seberang sana.