Barusan aku berbincang akrab dengan seorang sahabat. Tak banyak yang kami bicarakan. Tema perbincangan kami hanya mengenai hal kecil dan sangat biasa diperbincangkan orang. Mungkin Anda lantas akan bertanya, "Kalau begitu menariknya apa dong?" Nah, aku perlu memberitahu bahwa menariknya perbincangan ini justru ada pada kesederhanaan temanya, yakni "Melihat dengan Mata, Mengamati dengan Pikiran, dan Merasakan dengan Hati." Sejujurnya, bagiku, tema ini tak lain tak bukan adalah tentang bagaimana memaksimalkan indera kita untuk memaknai hidup kita sendiri. Sebab, biarbagaimana pun setiap hal akan bermakna lebih bila kita melihatnya bukan sekedar melihat dengan mata kepala kita saja, melainkan dengan melibatkan pikiran dan hati kita. Hanya dengan cara inilah kitamampu memaknai segala sesuatu yang ada di sekitar kita menjadi "sarana" pembelajaran dalam hidup. Tentu saja semua orang pernah meluangkan waktu untuk mengamati sesuatu; dan dalam pengamatan itu seseorang pasti menemukan hal yang "sesuatu banget".
Inilah yang aku alami baru-baru ini. Sang sahabatku tadi menggiringku untuk mereview perjalananku yang sederhana ke tiga desa di daerah Grobogan, Jawa Tengah. Ya, tadinya cuma pengalaman biasa dan sederhana, namun berkat perbincangan mendalam tadi, perjalanan tersebut justru menghadirkan sebuah peziarahan hidup bagiku. Sungguh mengesankan: Perbincangan tadi seakan"memaksaku" kembali ke desa-desa tersebut dengan tantangan baru, yakni melihat dan menemukan beberapa benda yang membuatku terkesan, bahkan turut memotivasi hidupku.
*****
Pagi itu, kuberjalan bersama mitra kerjaku menuju sebuah desa yang sangat menarik untuk dikunjungi. Namanya desa Padas, nun jauh di sisi pinggiran kabupaten Grobogan sana. Perjalanan yang awalnya tak lebih dari sekedar melaksanakan tugas atau pekerjaan, namun pada akhirnya menarik perhatianku: lagi, lagi, dan lagi ! Perjalanan yang bagi sebagian orang dipandang sebagai beban nan berat karena jarak tempuh dan struktur jalan yang kurang baik; tapi bagiku "tidak". Perjalanan itu bahkan begitu menyenangkanku, bukan saja karena aku orang desa, tetapi juga aku mengalami yang namanya shift paradigm (pergeseran paradigma), dari paradigma lama yang menganggap perjalan itu biasa-biasa saja (terdapat jalan yang kurang baik, sawah, pasar, dan semua yang kulalui ya begitu saja karena sudah terbiasa dengan itu semua) menuju sebuah pengalaman keterpesonaan akan semesta.
Begini kisahnya. Memasuki jalur dari kota kecamatan menuju desa yang akan menjadi tujuanku berbagi ilmu dengan penduduk setempat, aku tertarik dengan batu-batu hutan yang kulewati sepanjang perjalanan. Jalanan yang sarat akan batu kuning itu membuat sepeda motorku melaju tak sekencang biasanya bak di atas jalanan kota yang halus dan mulus. Dalam perjalanan ini, tak ada yang lebih menantang daripada mengarungi jalan bebatuan yang berserakan. Dari perjalanan ini aku berpikir bahwa struktur jalan yang kurang baik dan bisa berbahaya buat perjalanan sebagian orang kalau tidak hati-hati. Jika kita terpisah seperti batu yang tak tersusun rapi maka hiduppun tidak teratur, beda halnya dengan jalanan kota yang halus karena ada perekat aspal membuat strukturnya bagus dan relatif lebih aman. "Dalam hidup memang harus ada yang merekatkan untuk saling menguatkan satu sama lain sehingga jadi lebih baik".
Selain batu-batuan berserakan tadi, aku juga menikmati pemandangan alam yang indah bersama barisan salah satu pohon favoritku: Pohon Jati. Pohon kayu yang digunakan sebagai mana fungsi pada umumnya yaitu dipakai untuk membuat rumah baik kerangka maupun dindingnya, meja, kursi serta meubeler lainnya ini sangat unik karena keawetannya. Begitu istimewanya pohon ini hingga layak diberi penghargaan sebagai pohon yang kuat. Berawal dari situ kumulai berfikir bahwa kalau pohon jati ini tak mempunyai beberapa kelebihan yang bisa masuk dalam kriteria untuk dijadikan dinding, maka dia tak akan terpakai. Kata kunci yang bisa kita ambil adalah kuat/awet, lurus dan kokoh. Nah, jikalau pohon jati tak kokoh maka serentak ia tak akan bisa "hiduP" sampai tua, pun tak akan bisa dijadikan sesuatu yang berguna untuk material bangunan rumah dan lain sebagainya. Sejenak, di dalam keheningan hutan kesepian itu aku termenung, "Sinta, berdirilah seperti pohon jati yang lurus dan kokoh untuk membuat hidupmu lebih bermakna".
Hampir memasuki desa yang sama, aku terbuai oleh kebahagiaan karena bertemu dengan jalanan cor yang mulus tapi unik: jalanan yang dibangun bak rel kereta api : yang dicor hanya sisi kiri dan kanan; sementara di tengah tidak dicor samasekali. Ya, jalanan desa yang seperti rel kereta api tadi: di bagian tengahnya hanya ada batu yang disiram hamparan pasir. Sekali lagi, dengan keterpesonaan akan keindahan semesta, aku jalan unik ini membuatku merasakan jalanan yang strukturnya lebih rapi dari jalanan yang sebelumnya. Namun pada jalur ini kita harus berhati-hati karena konsentrasi melewati jalan cor yang setapak itu tadi. Jika salah jalur, bergeser sedikit saja dari jalan cor yang seharusnya kami lewati itu, akan membahayan kami. Belum lagi kalau nanti mengambil lajur sebelah kanan yang dipersiapkan untuk orang yang berlawanan arah dengan kami, wah bisa berabe tuh karena bisa-bisa menimbulkan kecelakaan alias tabrakan. Jalanan cor yang kami lalui itu selalu berdampingan seperti rel kereta api, kalau lurus pasangannya juga lurus, begitu juga kalau berliku. Jalan cor yang relatif nyaman dalam perjalan inipun serentak membuatku berfikir untuk berhati-hati. Jiakalu tak sesuai dengan aturan seperti lewat kiri dan mengikuti alur, maka berbahaya bahkan bisa mencelakakan diri dan orang lain. Saat tiba di bibir Desa Padasaku menemukan hal ini," Jika ingin selamat dalam hidup, berjalanlah lurus berdampingan sesuai dengan aturan yang ada".
Begitulah perjalananku menjadi semakin menarik dari tempat yang satu menuju tempat lainnya. Setelah sampai dirumah salah satu tokoh warga, tempat kami berbagi ilmu dengan pemuda-pemudi desa setempat. Aku tertarik melihat lantai yang terbuat dari kayu jati. Kalau orang jawa bilang itu"gladak". Rumah panggung didaerah setempat aku kira efektif karena struktur tanah yang labil, menjadikan gladak pilihan yang tepat untuk sebuah lantai. Pemandangan ini tentu saja menarik perhatianku, bahkan membuatku tambah kagum dengannya. Di sini kutemukan fungsi lain yaitu lantai. yang menarik adalah lantai lurusnya itu tadi. Kalau jati ini tak lurus dan awet, maka tak mungkin dijadikan lantai yang menjadi pijakan-pijakan kaki yang berjalan didalam rumah itu. Kini aku ingat lagi masa di mana aku berdiri di sana,tak mungkin akan statis disitu saja, bosan pastinya. Ternyata saat aku berdiri diatas lantai jati pilihan itu, membuat langkahku berjalan nyaman untuk mengelilingi isi rumah itu.ternyata kali ini erat lagi kaitannya dengan hidup. nemu satu kalimat lagi nich. "apabila kita berdiri diatas pijakan yang baik dan kokoh maka akan mempermudah langkah kita selanjutnya untuk mencapai tujuan".
Demikianlah perjalananku menjadi sangat menyenangkan dan penuh arti. Rupanya, apabila melakukan sesuatu dengan hati yang ikhlas, maka rasa lelah tak lagi terasa, pastinya. Menikmati setiap proses dengan hati yang bahagia, maka hasilnyapun akan luar biasa. Maka, buatlah hidup ini lebih bermakna, berawal dari hal-hal kecil yang oleh sebagian besar orang akan dipandang sebagai tak banyak orang berfikir tentang itu.
Tulisan ini sangat luarbiasa. Mengingatkanku pada sosok Sinta yang penuh cinta.
BalasHapus