Sering kali mendengar perbincangan disekitar yang kurang lebih sama dan menurut sebagian orang hal ini pertanyaan yang bisa bikin nggak nyaman. Istilah anak sekarang, galau.
Saat lulus sekolah; “Katanya sudah wisuda, kok masih nganggur?”. Beberapa waktu setelah itu,
“Kapan nikah?” Waktu nikah, dan pasangannya tidak sepadan (derajat, pangkat, dan kedudukan menurut orang kebanyakan) akan timbul lagi pertanyaan; “Kok pasangannya nggak imbang sih?”, dan lain sebagainya. Ini real, dan sering kali menjadi buah bibir. Meski privasi namun sulit untuk menghindari situasi ini.
Warna apa yang ditampilkan pada obyek yang dibuat menggambarkan rasa dan karsa sang empunya karya. Lewat media apapun yang tersedia, manusia bisa membentuk citra semau apa yang dia suka. Meskipun pencitraan tak serta merta membuatnya sanggup memikul beban atas konsekuensi yang mengikutinya. Sehingga, transformasi refleksi menjadi topik hangat ketika pencitraan tak seimbang dengan kenyataan. Persis seperti proses adiabatic namun dalam kehidupan social, tak bisa melupakan penilaian atas pencitraan yang telah dibangun. Meski demikian tak perlu menderita “Astigmatisma” kalau hanya untuk membedakan sesuatu yang dianggap sama oleh sebagian orang. Dan saat emosi tak terdefinisi dengan pasti, saat itu pula senyum dan tawa mampu memecahkan segala lara serta pembawa semangat yang kian membara. Asal jangan ketawa sepanjang masa. Bisa-bisa dibilang gila.

0 komentar:
Posting Komentar