Untuk mengubah paradigma seseorang tak semudah membalikkan telapak tangan seperti beras yang harus dimasak dulu menajdi nasi. Semua butuh proses dan tahapan yang harus dilalui. Tapi ketika paradigma yang sudah diyakini dan terbukti, apakah harus selalu dipatuhi??
Eksperimen yang dihadapi dan dilakukan dengan hati, pastilah tak hanya seperseribu atau setengah hati. maka eksperimen yang sudah diteliti dengan hati harus diyakini meskipun bukan suatu yang hakiki.
"phi" yang sering digunakan dalam berbagai formula matematika, tak selamanya 22/7 karena masih ada 3,14. Fungsinya sama, namun nominalnya tak kan persis sama.
Eksperimen akan mempengaruhi paradigma, namun paradigma yang sudah tertanam belum tentu mutlak sama dengan keadaan awal. Air dibekukan menjadi batu es, namun ketika mencair, keadaan air tak kan sejernih semula.
Keadaan awal, Formula yang digunakan, dan hasil akhir bisa disatukan seperti menu paket. Untuk tahu kebenaran yang tak selamanya mutlakpun, minimal ketiga unsur itu harus menjadi rukun wajib.
Tak ada pendapat akhir sebelum kembali padaNYA. 3,14 dan 22/7 relatif sama. Maka paradigma yang sudah tercipta atas dasar eksperimen, adalah formula jitu untuk menyelesaikan masalah, tentunya harus bisa memilih formula sesuai kebutuhan dilapangan.. :)
Nomen est Omen: From Zero to Hero
-
Di desa tempat aku lahir ada namanya Kiding. Penulisannya k-i-d-i-n-g
dengan 'd' tunggal. Aku tidak tahu darimana asal muasal nama itu. Bisa jadi
yang leb...
9 bulan yang lalu

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus