Kapitalisme membuat jaman ini bergerak di kisaran perhitungan matematis. Segala hal tampak diperhitungkan. Tak salah bila mengatakan bahwa era ini adalah era “perhitungan” atau era kepastian. Ya, era ini adalah era pragmatisme yang senggol sana senggol sini demi keuntungan diri. Semua hal pun diperhitungkan, entah dengan rumusan sederhana pun dengan formula nan njelimet...dan semua ini dilakukan demi sebuah tujuan yang terukur dengan logika. Tak peduli dengan kanan kiri, yang terpenting semua tujuan menjadi kenyataan dan, tentu harus sesuai ukuran. Ini di satu sisi. Di sisi lain, ada banyak fakta yang mengatakan bahwa proses mencapai sebuah tujuan seringkali justru jauh dari keterukuran – sebagaimana diimpikan sebelumnya. Ada faktor “X” yang kerap lupa diperhitungkan. Dengan kata lain, selalu ada faktor lain yang kerap dikesampingkan dalam menggapai sebuah tujuan, bahkan ketika faktor-faktor itu tergolong penting dan genting.
Di itik inilah ketidakpastian menggerogoti setiap tujuan yang hendak digapai. Lantas apa yang menyebabkan sebuah tujuan tak bisa digapai kendati dengan menggunakan logika dan perhitungan matematis ? Saya mengajak Anda merenungkan rumasan matematik berikut ini
“n + 0 =n”
Jika “n” adalah variabel bilangan 1,2,3,4,5, dan seterusnya, misalnya 1+1 = 0, maka kita akan sampai pada kesimpulan ini : “Segala sesatu yang ditambah dengan nol adalah bilangan itu sendiri.” Selanjutnya, dalam konteks agama (Islam), rumasan atau pengandaiandi atas juga bisa diberlakukan dalam konteks pengetahuan dan pengalaman akan Allah.
1 = tauhid,0 =ikhlas, dan10 =sempurna,
Maka, “1+0=1” bermakda demikian : “Raihlah tauhid untuk menuju kesempurnaan hidup.”
Di sini, ketidakpastian hasil dari perhitungan boleh jadi disebabkan oleh keikhlasan, dikarenakan kecenderungan perhitungan yang terlalu matematis dan akhirnya tak mendapatkan sesuatu yang sudah ditanam dan mengharap hasil sesuai apa yang ditanam dengan sesuatu yang lebih baik. Dengan keikhlasan, apa yang akan diharapkan akan sesuai dengan apa yang sudah ditanam dan diperhitungkan,segala sesuatu yang diperhitungkan pun menjadi sesuatu yang bernilai. Lagi, segala sesuatu yang baik, berprestasi, identik dengan angka 1, keikhlasan bisa berarti nol karena memperhitungkan sesuatu namun tidak terlalu berharap imbalan yang sifatnya memaksakan, dan angka 10 yang terdiri dari 1 dan nol adalah sebuah bilangan yang identik nilai nilai maksimal atau kesempurnaan. Meskipun kesempurnaan hanya milik Tuhan, namun manusia sangat berharap dan selalu berusaha untuk mendekati sempurna. Kaitannya dengan angka 10 berarti keikhlasan utama yang sesuai dengan ajaran yang mengandung nilai.
Sholat adalah ibadah utama yang diperhitungkan, ibadah sunah adalah suatu bentuk keihlasan dan sesuatu yang mempunyai nilai tambah. Kalau melambangkan nol sebagai bentuk keikhlasan, bukan berarti nol adalah sesuatu yang tak bernilai, karena angka nol dibelakang bilangan 1, maka akan mempunyai nilai yang lebih. Sholat adalah angka 1, sedang ibadah sunah yang lain adalah angka nol. Angka nol dibelakang angka 1 semakin banyak, maka nilainyapun akan semakin tinggi nilainya. Namun terbayang jika tak ada angka 1, maka nol dibelakang tak kan pernah ada nilainya.
Sebagai mana keseharian kita yang matematis juga tak berujung pada kepastian, demikian juga dengan cita-cita hidup kita tak mengenal kata pasti. Namun, dengan penuh perhitungan ada prediksi yang kemungkinan besar dapat terwujud. Dengan penuh perhitungan, tanggungjawab untuk mencapai tujuan yang menjadikan proses dari cita-cita itu sendiri akan menjadikan hasil yang penuh nilai. Di sisi lain, masih banyak orang percaya pada agama, yang notabene tidak mau ambil pusing dengan perhitungan. De fakto, agama kerap dijadikan sebagai pengahalang bagi keinginan manusia jaman ini. Agama bukan halangan untuk mencapai tujuan dengan penuh perhitungan. Namun dengan agama, semua perhitungan yang kadang tak berlogika menjadi logika yang nyata yang bisa dipertanggungjawabkan dan tak ada yang kebetulan dalam kehidupan ini. Semua perhitungan baik secara matematis maupun secara agama seharusnya seimbang dalam konteks yang sama. Namun perhitungan agama dan perhitungan yang matematis yang kadang bertolak belakang, bukan alasan bahwa hal ini berlawanan arah asal tahu arah dan tujuannya. Begitulah keseharian kita berjalan di tataran keinginan akan kepastian dalam menggapai kebahagiaan yang menjadi cita-cita hidup.
Tentu saja, hidup bukan rumusan kepastian. Kepastian kadangkala kita butuhkan dalam mencapai sebuah tujuan. Pertanyaannya apakah manusia harus mengamini segala rumusan kepastian itu dalam kesehariannya. Kenyataanya tak semua orang yang bisa menerima hasil dari hasil yang menjadi cita-cita yang tak selamanya sesuai dengan hasil yang sudah penuh dengan perhitungan. Perhitungan tak selamanya menjadikan cita-cita penuh nilai. Dan apapun yang terjadi dan yang kita lihat tak bisa jadi ukuran denga perhitungan yang telah menjadi kebiasaan dewasa ini.
Dafam Hotel Semarang, 28 Maret 2012

Tulisan yang sangat kritis, tajam dan mendalam.
BalasHapusEmang Sinta luarbiasa ! [Abang]
Sinta iku cantik po p-e-s-e-k ? [GusDur]
abang n gusdur,, thankz y dh berkomentar....
BalasHapusabang: ilmu yg sangat luar biasa,, tq.
gusdur: spt yg u lihat. q g cantix,, tp cwantiex beud.. ckckckck
Tambah lagi tulisannya, de...
BalasHapusAku melihat bakat menulis yang luarbiasa di dalam dirimu.. Jadi, enggak boleh dipendam ya...
Abang tunggu artikel2 menarik selanjutnay dari Sinta Laga... "masalah buat loe?" hahaha